admin | 02 Desember 2021

Profil Kelurahan Jebres

KONDISI GEOGRAFIS

Kelurahan Jebres merupakan salah satu kelurahan di wilayah Kecamatan Jebres, berada pada ketinggian antara 80 – 130 m di atas permukaan laut, dengan Luas wilayah 317 ha, dan dengan batas wilayah sebagai berikut :

Utara : Berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar

Selatan : Berbatasan dengan Kecamatan Pasar Kliwon

Barat : Berbatasan dengan Kecamatan Banjarsari

Timur : Berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo

KONDISI DEMOGRAFIS

Luas Wilayah : 317 Ha

Jumlah Penduduk : 33.825 jiwa

Jumlah RT : 128 RT

Jumlah RW : 36 RW

 

 

 

 

SEJARAH BERDIRINYA KELURAHAN JEBRES

Sepenggal sejarah di langit kraton Surakarta Hadiningrat kisaran tahun 1827. Suasana di kraton Surakarta makin memanas, Perang Jawa makin bergelora dan melebarkan pengaruh hingga tlatah kraton Surakarta.

Sinuhun Paku Buwono VI yang simpati dengan perjuangan Pangeran Diponegoro berpikir keras agar dapat membantu perjuangan sahid itu, tetapi beliau tidak mau dukungannya itu diketahui oleh pihak Belanda.

Untuk itu beliau merubah fungsi menara hilal di dataran tinggi Gunung Kendil(kawasan UNS saat ini) menjadi menara pengintai Beteng Vastenburg yang merupakan tangsi pasukan Kompeni Belanda. Sebagai kelengkapan juga dibentuklah satuan laskar telik sandi (pasukan pengintai) yang berjumlah tujuh orang. Sebagai senopati pasukan telik sandi itu adalah Taruna yang kemudian mendapat anugerah nama menjadi Ki Joyo Mustopo dan wakilnya adalah Suryo Padmo Negoro.

Laskar telik sandi tersebut merupakan prajurit berani mati yang diberi nama Laskar Balkiyo. Laskar telik sandi yang bermarkas di menara hilal Gunung Kendil, bertugas mengawasi kegiatan Belanda di Beteng Vastenburg secara jarak jauh dengan menggunakan teropong Van Bosch.

Hasil pengintaian itu kemudian dilaporkan ke markas penyusunan strategi perang pasukan Laskar Diponegoro di hutan Krendo Wahono. Karena di hutan itu sering diadakan pertemuan antara Sinuhun Paku Buwono VI yang menyamar menjadi Kiai Bangun Tapa dengan Pangeran Diponegoro atau utusannya seperti Senthot Prawirodirjo maupun Ali Basyah.

Sehingga tidak jarang Ki Joyo Mustopo harus hilir mudik dengan mengendarai kuda antara Gunung Kendil, hutan Krendo Wahono dan bahkan menempuh perjalanan ke Gua Selarong di Yogyakarta. Berkat jasa para telik sandi ini pihak Belanda sering mengalami kekalahan dalam berbagai pertempuran.

Menyadari akan hal itu, Belanda pun berusaha memperkuat pasukannya dengan mendatangkan prajurit baik dari negeri Belanda maupun merekrutnya dari penjuru nusantara. Penambahan laskar itu merupakan ancaman besar bagi perjuangan Pangeran Diponegoro. Maka tidak ada jalan lain bagi laskar pejuang itu selain merekrut para pemuda bergabung dengan laskar Pangeran Diponegoro untuk berjuang mengusir Kompeni Belanda.

Laskar telik sandi di Gunung Kendil pun tidak mau ketinggalan. Pada tanggal 23 September 1827; Ki Joyo Mustopo menggelar pendadaran pemuda di sekitar Gunung Kendil. Para pemuda itu digladhi untuk menjadi pasukan pengintai yang tangguh. Agar tidak menjadi pusat perhatian pihak Belanda, kegiatan itu dikemas dalam acara makan bersama (kembul bujana) dengan nasi kaul berupa nasi yang ditaruh pada sebuah encekan (anyaman dari bambu) sehingga nasi itu terkenal dengan sebutan sega encekan.

Di tengah-tengah berlangsungnya acara itu, datanglah kabar bahwa akan rawuh tamu besar dari Sanggrahan untuk turut bergabung. Sanggrahan adalah sebuah tempat persinggahan Sinuhun yang berada di tepi sungai Bengawan, tempat itu merupakan tempat plesiran Sinuhun dan sentana kraton Surakarta. Mendengar kabar menggembirakan itu; Ki Joyo Mustopo segera mapag (menyambut) sendiri tamu yang akan hadir itu. Dan benar, yang hadir adalah Kiai Bangun Tapa atau Sinuhun Paku Buwono VI yang merupakan Raja Surakarta Hadiningrat. Selanjutnya tempat bertemunya Ki Demang Joyo Mustopo dengan Kiai Bangun Tapa itu kini terkenal dengan sebutan kampung Mapagan.

Sukses sudah Ki Joyo Mustopo merekrut para pemuda di sekitar Gunung Kendil untuk menambah kekuatan laskar telik sandi Balkiyo. Atas keberhasilan itu, Sinuhun Paku Buwono VI pun merasa bangga. Dan pada kesempatan itu, Sinuhun Paku Buwono VI untuk mengelabuhi pihak Belanda mengukuhkan Ki Joyo Mustopo sebagai Demang di wilayah tepi Sungai Bengawan hingga menjorok ke wilayah Sana Sewu. Strategi itu dilakukan karena Belanda telah mengetahui bahwa wilayah di tepi sungai Bengawan itu merupakan wilayah persembunyian para telik sandi. Pihak Belanda menyebut wilayah itu lahan hutan atau land varest.

Bersamaan waktu, di sekitar tangsi Lemah Abang ada sebuah pabrik pengolahan keju bernama Victory milik seorang pengusaha Belanda bernama Tuan Victor J Pressen. Seorang tuan Belanda yang cukup peduli dengan kaum pribumi.

Lidah Jawa terlalu sulit menyebut land varest ataupun J Pressen yang akhirnya hanya tersebut sepenggal kata; Lanfres ataupun J-pres. Maka lambat laun seiring bergulirnya waktu, wilayah tepi sungai Bengawan itu terkenal dengan sebutan Jebres.

Wilayah Kademangan Jebres juga merupakan lumbung pangan (pedaringan) dan peternakan (banyak terdapat kandang sapi). Bahkan tempat yang awalnya berupa alas bebondotan (hutan belantara) itu lambat laun ramai dipadati penduduk.

Semangat juang, cinta tanah air dan keinginan untuk sejajar dengan bangsa lain nampaknya perlu digelorakan kembali, dimana kearifan lokal di Kelurahan Jebres tersebut diharapkan akan dapat mengingatkan lagi nilai-nilai luhur dalam menegakkan negara bangsa yang bernama Indonesai ini.

GAMBARAN UMUM KELURAHAN JEBRES

Kelurahan Jebres terletak di bagian timur-utara Kota Surakarta

Secara administratif, Kelurahan Jebres berada di  Kecamatan Jebres Kota Surakarta. Kelurahan Jebres mempunyai luaswilayah kurang lebih 317 ha. Terdiri dari 5 lingkungan, 36 RW dan 128 RT. Jarak dari pusat pemerintahan kecamatan  ±1 km,  dari pusat pemerintahan kota  ±3km, dan dari pusat provinsi + 100 km, dan dari pemerintah pusat +600 km. Adapun batas administrative Kelurahan Jebres adalah sebagai berikut:

Sebelah Utara              : Kel. Mojosongo dan Kab. Karanganyar

Sebelah Timur             : Kabupaten Karanganyar

Sebelah Selatan           : Kel. Purwodiningratan dan Kel. Pucangsawit

SebelahBarat               : Kelurahan Tegalharjo

Secara topografis wilayah Kelurahan Jebres termasuk daerah dataran rendah dengan ketinggian 110 meter dari permukaan air laut, dan memiliki suhu rata-rata 380 C.

 

 

DAFTAR NAMA KAMPUNG KELURAHAN JEBRES

KECAMATAN JEBRES KOTA SURAKARTA

NO

NAMA KAMPUNG

LOKASI RT/RW

1

Kampung Ngemingan

RW. 01

2

Kampung  Tegalrejo

RW. 02 – 04

3

Kampung Tegal Baru

RT. 01 RW. 05

4

Kampung Petoran

RT. 02 RW. 05  S/D RW. 09

5

Kampung Kentingan

RW.10  s/d  RW.11

6

Kampung Ngasinan

RW. 12  s/d  RW. 13

7

Kampung Gendingan

RW. 14  s/d  RW. 16

8

Kampung Kentingan

RW. 17 dan RW. 36

9

Kampung Ngoresan

RW. 18, RW. 28

10

Kampung Gulon

RW. 19 dan RW. 21

11

Kampung Kaplingan

RW.20

12

Kampung Panggungrejo

RW. 23

13

Kampung sawah Karang

RT. 04 RW. 23

14

Kampung Jebres Krajan

RW. 24

15

Kampung Jebres Tengah

RW. 25

16

Kampung Tegalkuniran

RW. 26

17

Kampung Guwosari

RW. 27

18

Kampung Mondokan

RW. 28

19

Kampung Purwoprajan

RW. 29 s/d RW. 30

20

Kampung Kandangsapi

RW. 31 s/d RW. 35

JUMLAH KELUARGA MISKIN PER RW

KELURAHAN JEBRES KECAMATAN JEBRES KOTA SURAKARTA

     

NO

RW

JUMLAH

1

1

37

2

2

50

3

3

75

4

4

64

5

5

67

6

6

126

7

7

83

8

8

106

9

9

69

10

10

96

11

11

80

12

12

71

13

13

57

14

14

59

15

15

18

16

16

42

17

17

67

18

18

72

19

19

151

20

20

306

21

21

164

22

22

62

23

23

137

24

24

119

25

25

58

26

26

127

27

27

196

28

28

46

29

29

26

30

30

41

31

31

60

32

32

33

33

33

43

34

34

70

35

35

83

36

36

119